Minggu, 29 Juli 2012 | By: dewi permatasarii

Istri Rasulullah: Saudah binti Zam’ah – Muhajirah Istri Dari Seorang Muhajir


Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Quraisyiyah Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari Bani Najjar. Beliau juga seorang Sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara dari Suhair bin Amru Al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyeberangi dahsyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalam rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal dinegeri asing (Habsyah) beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajirin. Maka beliaupun menghadapi ujian menjadi seorang janda disamping juga ujian dinegeri asing.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.
Telah tercatat dalam sejarah tak seorangpun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau disaat menusia mengkufurinya dan menyerahkan seluruh hartanya disaat orang lain menahan bantuan terhadapnya dan bersamanya pula Allah mengkaruniakan kepada Rasul putra-putri.
Akan tetapi hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:
Khaulah  : Tidakkah anda ingin menikah ya Rasulullah?
Nabi         : (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah?
Khaulah  : Jika anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.
Nabi         : Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?
Khaulah  : Putri dari orang yang anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.
Nabi         : (Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diam untuk beberapa saat kemudian bertanya) jika dengan seorang janda?
Khaulah  : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan mengikuti yang anda bawa.
Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya isteri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah. Orang-orang di Mekkah merasa heran terhadap pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar diantara mereka. Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang dan penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kasih.
Adapun Saudah radhiyallahu ‘anha mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan melayani putri-putri Rasulullah dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.
Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah radhiyallahu ‘anha menyadari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak mengawininya dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi  merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata, “Pertahankanlah aku ya Rasulullah! Demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi istrimu.”  [1]
Begitulah Saudah radhiyallahu ‘anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau radhiyallahu ‘anha sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.” [2]
Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:
“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” [QS.an-Nisa':128]
Saudah radhiyallahu ‘anha tinggal di rumah tangga Nubuwwah dengan penuh keridhaan dan ketenangan dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya disamping sabaik-baik makhluk di dunia dan dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar ummul mukminin dan menjadi istri Rasul di jannah. Akhirnya wafatlah Saudah pada akhir pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. [3]
Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata, “Tiada seorang wanita pun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia [4] melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata, ‘Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah, hanya saja beliau berwatak keras.” [5]
Foot Note:
[1] al-Ishaba (VIII/117]. al-Istii’ab (IV/1867]. Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Dibolehkan Menghadiahkan Gilirannya Kepada Madunya, no.1463
[2] HR. Bukhari dalam Nikah pada bab: Seorang Wanita Menghadiahkan Hari Giliran Suaminya Kepada Madunya (VI/154) dan Muslim yang serupa dengan hadits tersebut.
[3] al-Ishabah (VIII/117) dan al-Istii’aab (IV/1867)
[4] Maksudnya adalah beliau menginginkan agar menyamai petunjuknya dan pola hidupnya selain yang disebut di akhir kalimat.
[5] HR. Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Diperbolehkan Menghadiahkan Gilirannya Kepada Madunya, no.1463.
Sumber: “Mereka Adalah Para Shahabiyat [Nisaa’ Haular Rasul], Mahmud Mahdi al Istambuli & Musthafa Abu An Nashir Asy Syalabi, Penerbit at-Tibyan, Hal.50-53.

0 komentar:

Posting Komentar